Naskahdrama adalah sebuah teks yang berisikan dialog dengan gambaran karakter-karakter tokoh di dalamnya, berfungsi sebagai naskah sastra (untuk dibaca) atau naskah untuk dipentaskan. Kata drama sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti tindakan. Terdapat unsur-unsur intrinsik dalam drama, yakni: LutungKasarung Dahulu kala ada seorang ratu yang adil dan bijaksana ia bernama Purba Tapa Agung, ia pun memiliki 2 orang putri yang sangat cantik mereka adalah Purbasari si sulung dan Purbararang si bungsu. Suatu hari sang ratu merasa risau karena sampai saat ini belum menemukan pewaris tahta yang tepat untuk menggantikannya. tbGIH9U. Uploaded byRika 0% found this document useful 0 votes40 views9 pagesDescriptionnaskah dramaCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document0% found this document useful 0 votes40 views9 pagesNaskah Lutung KasarungUploaded byRika Descriptionnaskah dramaFull descriptionJump to Page You are on page 1of 9Search inside document You're Reading a Free Preview Pages 5 to 8 are not shown in this preview. Buy the Full Version Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. Naskah Drama Lutung Kasarung Adhesta Me—dimodifikasi oleh MT Narator “Alkisah, ada sebuah kerajaan di Pulau Jawa. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang bernama Prabu Tapa Agung yang didampingi oleh seorang ratu cantik bernama Dwi Ayu. Mereka mempunyai dua orang putri yang bernama Purbararang dan Purbasari yang tak kalah cantik dari Ibunya. Pada suatu hari, untuk melepas penat, Prabu Tapa Agung berjalan-jalan bersama istri tercintanya. Prabu Tapa Agung “Tenang sekali suasana di sini.” Ratu Dwi Ayu “Benar, di sini memang lebih tenang daripada di kerajaan.” Narator “Keduanya berjalan-jalan di hutan dekat kerjaaan, tanpa dikawal oleh para pengawal kerajaan. Di tengah jalan, ternyata sesuatu yang buruk terjadi pada Prabu Tapa Agung.” Prabu Tapa Agung “Jatuh, memegangi kakinya Ahh...” Ratu Dwi Ayu “Astaga, Raja... terduduk, ikut memegangi kaki Prabu Tapa Agung. Tolong... tolong... ” Narator “Syukurlah ada orang yang mendengar. Seorang Nenek yang tengah mencari kayu bakar datang. Ia menawarkan untuk mengobati Prabu Tapa Agung di rumahnya.” Nini Penyihir “Sambil menempelkan daun pada luka Raja Anda terkena duri semak. Jika Baginda selalu menempelkan daun ini pada lukanya, saya yakin pasti akan cepat sembuh.” Ratu Dwi Ayu “Terima kasih Nek, saya tidak tahu bagaimana nasib kami jika Nenek tidak ada.” Nini Penyihir “Tidak apa-apa. Ini, bawahalah! Menyerahkan kantong kecil. Tempelkan setiap hari.” Prabu Tapa Agung “Terima kasih banyak Nek.” Narator “Hari demi hari berlalu. Sejak kejadian Baginda Raja terjatuh di hutan, kesehatannya mulai menurun. Ia sering batuk dan tidak berselera makan. Umurnya yang tua juga menambah buruk kondisinya. Prabu Tapa Agung “Berbicara dengan nada tercekat sambil memegangi dada Aku sudah tua— uhuk. Mungkin sudah saatnya aku pergi—uhuk!” Ratu Dwi Ayu “Nada khawatir Jangan bicara begitu Suamiku.” Prabu Tapa Agung “Tidak Istriku. Sekarang memang sudah saatnya aku turun tahta. Aku— uhuk — akan menunjuk... Purbasari sebagai penggantiku.” Purbararang “marah Apa?!?!?! Ayahanda—mendekati Ayahnya aku adalah putri sulung, seharusnya Ayahanda memilihku.” Indrajaya “Ya, Ayahanda. Seharusnya Purbararang lah yang menjadi penerusmu!” Prabu Tapa Agung “Tidak, keputusanku sudah bulat.” Purbararang “Tapi Ayah—“ Ratu Dwi Ayu “Hentikan! Apa kalian tidak lihat Ayah kalian sekarat?! Tinggalkan ruangan ini sekarang!” Narator “Purbararang beserta tunangannya—Indrajaya merasa kesal karena keputusan Prabu Tapa Agung yang menurut mereka tidak adil. Hal tersebut menyulut kemarahan di antara keduanya. Setelah berpikir panjang, Purbararang menemukan sebuah rencana untuk mengembalikannya ke posisi yang ia inginkan.” Purbararang “Ayahku menyerahkan tahtanya pada Adikku yang bodoh itu! Tahu apa dia soal kerajaan?! Aku tidak mau tahu Nini, kau harus melakukan sesuatu pada Purbasari!” Nini Penyihir “Itu permasalahan kecil, kau tahu tidak ada yang tidak bisa ku lakukan. Tapi... kau pun juga tahu aku punya harga bukan?” Purbararang “Cih Melempar sekatung koin emas. Koinnya keluar Aku rasa ini cukup untuk mengutuk Purbasari.” Penyihir “Baiklah, tunggu saja.” Purbararang “Tertawa.” Narator “Selang beberapa hari, Nini si penyihir berusaha untuk menyelinap ke dalam kamar Purbasari. Saat ia berhasil, Nini langsung melancarkan rencananya untuk mencelakai Purbasari, yaitu dengan menumpahkan bubuk racun di kasur Purbasari. Keesokan harinya, kerajaan dihebohkan oleh Putri Purbsari yang tak lagi berparas cantik. Kulit tangan, kaki, bahkan wajahnya penuh dengan totol-totol hitam. Prabu Tapa Agung “Datang bersama ratu, dan Purbararang dengan tergopoh-gopoh Apa yang terjadi?!” Dayang “Saya tidak tahu Baginda Raja... Tiba-tiba saja kulit Tuan Putri menjadi seperti ini.” Semua “Terkejut” Purbararang “Astaga! Bau sekali! Mengipas-ngipas sekitar hidungnya. Lihatlah Ayahanda, apakah Ayahanda yakin ingin menurunkan tahta pada orang yang terkutuk seperti itu?” Purbasari “Ayahanda, aku juga tidak tahu apa-apa. Ibunda... apa yang telah terjadi pada diriku??? Sedih” Indrajaya “Datang dengan tergesa Baginda, rakyat mengeluhkan mengenai keputusanmu memilih Purbasari sebagai pewaris tahtamu.” Ratu Dwi Ayu “Baginda... Bagaimana ini? Menatap Purbasari Apa yang terjadi padamu Anakku? Sedih” Purbararang “Ayahanda, Purbasari tidak pantas menjadi seorang ratu! Apakah Ayahanda ingin membuat rakyat kecewa?” Prabu Tapa Agung “Hmm Wajah kecewa Kau benar putriku, dayang... tolong bawa Purbasari... ke pengasingan.” Purbasari “Apa?! Ayahanda, jangan usir aku. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku mohon, Ibunda... tolong aku menangis.” Prabu Tapa Agung “Berhenti menangis putriku, kembalilah saat kau sudah sembuh. Dayang, cepat kau antarkan Purbasari!” Dayang “B—Baik Baginda, akan saya laksanakan.” Purbararang dan Indrajaya “Diam-diam tertawa senang.” Narator “Purbasari dan dayangnya pergi dari istana menuju hutan tempat pengasingan. Dayang begitu berat melepaskan Purbasari, namun titah raja mengharuskan mengantar Purbasari ke tempat itu.” Dayang “Maafkan saya Tuan Putri.” Purbasari “Tidak apa-apa dayang, Ayahanda sudah memerintahkannya Sedih.” Dayang “Baiklah, tapi sebagai permohonan maaf saya, biarkan saya mencarikan tempat tinggal untuk Tuan Putri.” Narator Lama setelah mereka berjalan-jalan, akhirnya mereka menemukan sebuah gubuk di tengah hutan. Setelah itu, barulah dayang melepas Purbasari. Perginya dayang menandai bahwa Purbasari harus tinggal sendiri dalam pengasingannya. Suatu hari, ketika Purbasari duduk di depan gubuknya, dia melihat seekor lutung yang muncul dari semak-semak.” Purbasari “Ketakutan Siapa kau?” Lutung Kasarung “Muncul dari semak-semak. Melambai-lambaikan tangan. Mengulurkan tangan untuk bersalaman” Purbasari “M—Mau apa kau?!” Lutung Kasarung “Menuliskan sesuatu di kertas bertuliskan Lutung Kasarung’ Purbasari “Lutung... Kasarung?” Lutung Kasarung “Mengangguk, mendekati Purbasari, mengulurkan tangan untuk bersalaman” Narator “Sejak saat itu, Purbasari dan Lutung Kasarung berteman. Lutung Kasarung kini tahu kenapa seorang putri kerajaan ada di tengah hutan sendirian. Lutung prihatin akan keadaan Purbasari. Ia menjadi sangat perhatian pada Purbasari. Ia membawakan Purbasari makanan, air dan sesekali membawa bunga-bunga yang indah. Pada suatu malam bulan purnama, Lutung Kasarung pergi ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Paginya, Purbasari mendapatinya.” Purbasari “Lutung... Apa yang sedang kamu lakukan?” Lutung Kasarung “Tuan Putri, mandilah di telaga ini.” Purbasari “Terkejut K—Kau? T—Tidak mungkin!!! Kenapa kau bisa bicara? Lalu—kenapa menyuruhku untuk mandi di sini???” Lutung Kasarung “Menarik tangan Purbasari. Jika kau mau kembali ke istana, ini satu-satunya jalan. Cepat, ceburkan dirimu!” Narator “Walau ragu, akhirnya Purbasari menceburkan dirinya ke telaga itu. Lalu sesuatu terjadi pada kulit Purbasari. Kulitnya menjadi bersih dan cantik kembali.” Purbasari “Tidak mungkin! Kulitku... kulitku kembali seperti semula. Lutung, terima kasih banyak! Kegirangan” Lutung Kasarung “Sama-sama. Sekarang, kau dapat kembali ke istana dan bergabung bersama keluargamu. Aku akan mengantarkanmu.” Narator “Keesokan harinya Purbasari dan Lutung Kasarung kembali ke istana. Semua orang terkejut, ada yang terkejut bahagia, dan ada yang terkejut kesal.” Dayang “Mencuci baju sambil menyanyi, kemudian terkejut. Pu—Putri Purbasari telah kembali! Baginda Raja!!! Baginda Ratu!!!” Purbararang “Kaget. Astaga! Memelankan suara Bagaimana ini bisa terjadi???” Dayang “Tuan Putri, apa Tuan Putri baik-baik saja? Apa Tuan Putri terluka? Syukurlah Tuan Putri kembali dengan cepat. Saya pikir saya tidak akan bertemu Tuan Putri lagi.” Purbasari “Iya dayang, aku baik-baik saja. Semua... berkat Lutung Kasarung. Menoleh lutung” Prabu Tapa Agung “Purbasari—uhuk Terjatuh.” Ratu Dwi Ayu “Terkejut Baginda!” Purbararang “Tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi! Ayahanda harus menyerahkan tahta kepadaku. Baiklah, aku kita berlomba! Narator “Purbasari menyanggupi tantangan dari Kakaknya—Purbararang. Berbagai kompetisi ia jalani. Mereka seri. Tibalah kompetisi terakhir, yakni kompetisi mengenai tunangan siapa yang paling tampan di antara mereka berdua.” Indrajaya “Angkuh. Aku adalah tunangan Purbararang. Aku adalah pria tertampan di kerajaan ini.” Purbasari “Gelisah, berucap dengan nada pelan Bagaimana ini?” Lutung Kasarung “Aku tunangannya!” Purbararang “Apa? Lutung? Tertawa Tidak mungkin! Tapi baiklah, jika seperti itu sudah jelas siapa pemenangnya.” Lutung Kasarung “Tunggu sebentar.” Narator “Lutung Kasarung tiba-tiba bersemedi. Ia berdoa agar dirinya dapat menjadi tandingan Indrajaya. Dan tanpa disangka-sangka, Lutung Kasarung berubah menjadi seorang pria tampan. Bahkan lebih tampan daripada Indrajaya. Narator “Lutung Kasarung pun melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari.” Semuanya “Terkejut” Purbasari “Kaget. Lutung... Kau—” Lutung Kasarung “Aku adalah pangeran dari kerajaan tetangga. Tapi aku dihukum akan kesombonganku. Sekarang aku sudah belajar untuk tidak mengulangi kesalahanku.” Indrajaya “Ti—tidak mungkin!” Purbararang ”Tidak mungkin! Aku sudah meracuni Ayahanda dan meracuni gadis itu! Kenapa jadi begini!!!” Ratu Dwi Ayu “Ap—Apa? Kau meracuni Ayahmu dan Adikmu sendiri?” FLASHBACK ON Purbararang “Bagaimana?! Bagaimana caranya???” Indrajaya “Racuni saja Raja!” Purbararang “Tid—“ Indrajaya “Lagipula Raja sudah tua, tak sanggup lagi untuk memimpin negeri ini. Biar aku yang menggantikannya. Kau setuju kan?” Purbararang “Tapi—“ Indrajaya “Aku memanggil seseorang Nini Penyihir datang. Ini Nini, dia pasti bisa melakukan sesuatu pada Raja tanpa seorang pun mengetahuinya. Jadi Nini, apa rencana anda?” Nini Penyihir “Mudah. Duri semak dan daun liar beracun. Itu akan menurunkan kesehatannya perlahan-lahan.” FLASHBACK OFF Narator “Meskipun Purbararang merupakan anak dari Raja dan Ratu, ia dan Indrajaya menerima hukuman atas apa yang telah mereka perbuat. Purbasari akhirnya menjadi seorang ratu didamping oleh seseorang yang tak pernah ia sangka, yang selalu ada untuknya meski dalam kesusahan—dia lah Lutung Kasarung.” LUTUNG KASARUNG Alkisah pada zaman dahulu kala di Tatar Pasundan ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung. Prabu Tapak Agung mempunyai seorang istri yang dikaruniai dua orang putri yang kini sudah dewasa dan sangat cantik jelita. Akan tetapi, sifat kedua putrinya sangatlah berbeda. Kedua putri tersebut bernama Purbararang dan adiknya Purbasari. Hingga akhirnya pada suatu hari, sang permaisuri Prabu merasa cemas karena usia sang prabu sudah terlalu tua untuk memimpin kerajan di negeri ini. *intro* Adegan 1 Di kamar Istri Prabu “sambil memegang bahu Kanda, sepertinya usiamu sudah tua untuk memimpin kerajaan ini. Bagaimana jika kita serahkan saja kerajaan ini kepada salah satu putri kita?” Prabu Tapak Agung “sambil batuk Ukhukhuk.. Kamu benar Dinda, sebaiknya kita serahkan tahta ini kepada Purbasari putri sulung kita.” Istri Prabu “Tapi bagaimana dengan Purbararang? dengan wajah bingung.” Prabu Tapak Agung “Hem.. Kita sudah merawat mereka sejak kecil, jadi kita sudah tahu sifat-sifat mereka. Dan menurutku Purbasarilah yang pantas untuk meneruskan tahtaku.” Adegan 2 Prabu Tapak Agung keluar dari kamarnya untuk memberitahu kedua putrinya Prabu Tapak Agung “Dayang kemarilah! Panggillah kedua putriku kemari!” Dayang 1 “Baik Tuan.”Dayang bergegas memanggil Purbararang dan Purbasari Purbararang dan Purbasari pun menghadap kepada Ayahandanya. Bergegas Sang istri Prabu pun keluar dari kamarnya, dan mendengar percakapan suami dengan anak-anaknya Purbasari “Ada apa Ayahanda memanggil kami berdua kemari?” Prabu Tapak Agung “Begini putriku, usia Ayah sudah semakin tua untuk memimpin kerajaan ini. Ayah akan menyerahkan tahta ini kepada Purbasari.” Purbararang “APA..! Ayah akan menyerahkan tahta kerajaan ini kepada Purbasari, semantara aku adalah anak pertamamu. ” dengan wajah memerah Prabu Tapak Agung ”tetapi purbararang sifat mu tidak mendukung dalam memerintah Kerajaan” Purbararang ”tetapi yah!” Prabu Tapak Agung ”kau harus menurut purbararang” Purbararang ”Ayah tak adil!” Akhirnya purbararang pergi kemudian prabu tapak agung pun sesak nafas Prabu Tapak Agung sambil memegang dada sebelah kiri karena sesak nafas dan terjatuh Istri Prabu dan Purbasari menangis tersedu-sedu “Ayah.. Ayah…” Purbasari “Ayah.. Ayahanda jangan pergi, bangunlah jangan tinggalkan kami.” sambil nangis tersedu-sedu Prabu Tapak Agung “Purbasari,kau yang akan meneruskan tahta Kerajaan ini” sambil memegang tangannya Istri Prabu menangis dan merangkul tubuh sang suami “Kanda bangunlah, jangan tinggalkan Dinda.” Ayah Purbararang dan Purbasari pun meninggal dunia karena serang jatung. Adegan 3 Di hutan Akhirnya setelah kematian Prabu Tapak Agung,seminggu sebelum penobatan Purbasari menjadi seorang Ratu, Purbararang mempunyai niatan jahat untuk mencelakakan adiknya. Ia bersama tunangannya pergi untuk mencari seorang Nenek Sihir di tengah hutan dengan harapan dapat membantunya dalam menjalankan niat jahat Purbararang menggagalakan penobatan Purbasari sebagai seorang Ratu kerajaan. Purbararang “Kakang, ayo cepatan jalannya.” sambil menarik tangan Indrajaya Indrajaya “Sabar Dinda, ini sedang jalan.” dengan nada sedikit marah Sampailah mereka ditengah hutan dan mereka pun menemukan rumah Nenek Sihir. Purbararang “Kakang look it! Sepertinya kita telah menemukan rumah Nenek Sihir itu. Ayo cepat kita kesana.” sambil bergegas menuju rumah nenek sihir Indrajaya “Iya sudah, lest go Dinda.” sambil memegang pergelangan tangan Purbararang Tiba-tiba keluarlah Nenek Sihir itu, dengan membawa tongkat saktinya. Nenek Sihir tertawa “Hihihi.. Sedang apa kalian datang kemari?” Indrajaya ketakutan, bersembunyi dibelakang pundak Purbararang “Dinda, ayo kita pulang saja.” Nenek Sihir “Jangan takut anak muda, aku tahu maksud kedatangan kalian kemari. Kalian pasti ingin mencelakan seseorang.” Indrajaya “Wah.. Nenek ini hebat sekali ya. Belum dikasih tahu maksud dan tujuan kami kemari, tapi Nenek sudah tahu.” Nenek Sihir sambil memberikan ramuan yang telah yang dibuatnya Ini, berikan ramuan ini kepada Purbasari. Dia akan mengalami kulit yang melepuh. Purbararang tersenyum pahit “Terima kasih Nek, Ini ada kepingan emas untukmu.” Setelah mendapatkan ramuan itu Purbararang dan Indrajaya bergegas pulang menuju kerajaan. Adegan 4 Di dapur Haripun sudah mulai gelap, tiba waktunya untuk makan malam bagi keluarga kerajaan. Dayang pun menyiapkan makanan untuk santapan makan malam. Purbasari ”Dayang.. sudah siapkah makanannya?” dengan nada lembut Dayang “Enggih putri, sebentar lagi siap makanannya. Tungguhlah sebentar.” Purbararang “Sebentar Bunda, aku akan membantu dayang untuk menyiapkan makanan.” tersenyum sok manis Tanpa sepengetahuan Dayang, Purbararang memberikan ramuan yang diberikan Nenek Sihir. Dan Purbararang membawakan makanan menuju meja makan. Purbararang “Silahkan dinikmati adikku.” sembari menyajikan makanan didepan meja makan Purbasari Purbasari “ Terima kasih Kak.” tersenyum manis Mereka pun menikmati hidangan makan malam. Hingga keesokan harinya, di Kerajaan pun santar terdengar heboh bau amis yang menusuk hidung. Ternyata bau amis dan busuk tersebut berasal dari kamar Purbasari. Istri Prabu “Pengawal bau amis dan busuk apakah ini?” sambil menutupi hidungnya Dayang 2 “Bau ini berasal dari kamar Purbasari, Permaisuri.” Istri Prabu “Tidak mungkin! Bau ini berasal dari kamar Purbasari. Purbasari adalaha putri yang bersih dan wangi.” sambil mengoceh Dayang 2 “Iya sudah mari kita kesana untuk membuktikannya.” *Intro* Adegan 5 Di kamar Purbasari Semakin dekat menuju kamar Purbasari, semakin tercium aroma amis dan busuk dari Purbasari. Sampai-sampai keluarga kerajaan pun hampir tidak kuat untuk mencium aromanya. Dayang 2 masuk kamar Purbasari “Tuan Putri ? .” Purbasari dengan keadaan takut dan bingung, karena keadaan kulitnya yang membusuk “Haduh bagaimana ini? Purbararang “Wah ternyata bau itu berasal dari tubuh Purbasari, Bunda?” Usir saja dia dari kerajaan ini daripada menimbulkan resah masyarakat!” dengan nada marah Istri Prabu berfikir sejenak “Kau benar Purbararang. Patih, bawa dia pergi dari kerajaan ini sebelum rakyat mengetahui hal ini.” Purbasari “Tapi.. Bunda?” sembari memelas, melutut dikaki Bunda Purbararang “Pergi kau! Kau tak pantas berada disini.” sembari mendorong Purbasari dari kaki Bundanya. “Patih cepatlah bawa dia pergi dari sini, aku sudah tidak tahan menahan bau busuk ini.” Patih ”Baiklah Putri Purbararang, saya akan membawa Putri Purbasari pergi jauh dari kerajaan ini.” dengan wajah yang sedih Sang Patih pun membawa Putri Purbasari ke hutan yang jauh dari pemukiman rakyat. Adegan 6 Di hutan Sampailah Patih dan Purbasari di hutan. Sang Patih membuat rumah dari bambu untuk tempat tinggal Purbasari. Patih “Purbasari, tinggallah kau disini! Paman akan mengirim persedian makanan untumu. Jagalah dirimu disini baik-baik. Penderitaan ini akan segera berakhir. Bersabarlah! sembari menepuk pundak Purbasari pelan Purbasari “Iya Paman terima kasih atas semuanya. Pergilah! Aku tahu kau pasti tidak kuat mencium bau busuk badanku ini.” dengan wajah sedih Sang Patih pun pergi kembali ke istana. Di tengah hutan belantara Purbasari hidup dengan damai yang ditemani oleh berbagai macam hewan. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang datang dan bertanya. Lutung Kasarung ”menyapa” Purbasari ”siapa kau? Dan kenapa kau kemari?” Lutung Kasarung ”ak siluman kera” Purbsari ”apa?pingsan seketika Saat setelah pubasari bangun ia melihat dirinya sudah dalam gubuk bersama kera tadi,merekapun sering pergi bersama. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya. Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum. Dan keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. Lutung Kasarung sambil menarik tangan Purbasari menuju telaga dengan bahasa isyaratnya Purbasari “Apa manfaatnya bagiku?” pikir Purbasari Lutung Kasarung cobalah dulu nanti kau akan tau meyakinkan Purbasari untuk mandi di telaga tersebut Purbasari “Baiklah akan kuturuti kemauanmu.” Akhirnya Purbasari menceburkan dirinya ke telaga. Tak lama setelah Ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut. Purbasari kaget “Hah.. kulitku kembali seperti semula.” Lutung Kasurung bergembira Setelah beberapa bulan penobatan Purbararang sebagai ratu di kerajaan, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan pengawalnya. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang “Apa? Kenapa kau bisa berubah seperti dulu lagi?” sambil wajah kebingungan Purbasari “Tidak perlu kau tahu, bagaimana aku bisa kembali seperti ini. Yang jelas dengan aku yang seperti ini, aku bisa kembali melanjutkan amanat yang telah Ayahanda berikan kepadaku untuk memimpin kerajaan.” *intro* Purbararang “Tidak! Tidak bisa, akulah sang ratu. Aku sudah dinobatkan sebagai ratu beberapa bulan yang lalu!” dengan nada tinggi Purbasari “Tentu saja bisa, ini adalah amanat Ayahanda sebelum Beliau meninggal dunia. Dan tidak ada yang bisa menentang amanat Ayahanda. Purbararang “Baiklah, bagaimana jika kita adu ketampanan tunangan kita?” Sambil menarik Iengan Indrajaya “Mana tunanganmu?” Purbasari kebingungan, kemudian tanpa sadar Ia menarik Lutung Kasarung “Ini, inilah tunanganku. tanpa ragu Purbararang dan Indrajaya tertawa terbahak-bahak melihat Purbasari membawa sang Lutung Purbararang “Jadi monyet itu tunanganmu?” Purbasari diam dan membisu Dengan seketika, saat Purbararang dan Indrajaya tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba mereka terkejut melihat sesosok Lutung yang berubah menjadi pangeran tampan. Lutung Kasarung “Akulah wujud asli dari seekor lutung. Dan aku akan segera menikahi Purbasari.” Purbararang “ Apa tidak mungkin!” dengan wajah heran Lutung Kasarung “Tidak akan ada yang tiadak mungkin di dunia ini. Kau tahu? Aku adalah seorang pangeran dari Kayangan yang dikutuk. Purbasari “Apa kau seorang pangeran?” dengan wajah kaget Lutung Kasarung “Ya aku adalah seorang pangeran. Dan kutukanku kini berakhir ketika seorang gadis mencintaiku dengan hati yang tulus. Dan gadis itu adalah kau Purbasari. sambil menunjuk Purbasari Purbararang “Apa? Lalu untuk apa aku memasukan racun kedalam makanan Purbasari, jika akhirnya dia menemukan kebahagiannya. Ini tak adil!” dengan nada marah Tanpa disengaja, Patih datang dan mendengar semua percakapan mereka. *intro* Patih “Jadi selama ini kaulah biyang keladi semua ini Purbararang. Pengawal tangkap dia dan hakimi dia dikerajaan!” nada marah Dayang 1 dan 3 “Baik Tuan.” menggandeng Purbararang dan Indrajaya Patih merangkul bahagia Sudah Paman duga semuanya akan berakhir. Bagaimana keadaanmu? Dan benarkah pria tampan ini adalah tunanganmu? sambil menunjuk Lutung Kasarung Purbasari “Aku baik-baik saja Paman. Ya benar Paman, dia adalah tunanganku.” Patih “Bagaimana jika sekarang kita pulang? Dan pertemukan tunanganmu kepada ibumu. Sungguh ibumu sangat merindukanmu.” Purbasari menghadap pangeran “Pangeran maukah kau ikut bersamaku ke kerajaan?” Lutung Kasarung “Sudahku putuskan saatku menemanimu di hutan, aku akan selalu bersamamu kemanapun kamu pergi.” Purbasari tersenyum Mereka pun pulang menuju kerajaan. Sesampainya di kerajaan Permaisuri sedang memberi hukuman kepada Purbararang dan Indrajaya. Istri Prabu “Tidak kusangka aku yang melahirkanmu dan membesarkanmu, tapi mengapa kau tega berlaku seperti itu kepada adikmu? Ibu tidak pernah mendidikmu seperti itu?” Purbararang dan Indrajaya “Maafkan kami, jangan hukum kami Bunda?” Purbasari “Sudah Bunda tidak usah dihukum aku telah memaafkan mereka semua.” Istri Prabu “Kamu memang Putriku yang baik, dan kamu memang pantas memimpin kerajaan ini dibandingkan Kakakmu. sambil memegang tangan Purbasari Tetapi hukum harus tetap dijalankan agar mereka jera.” Patih “Apa yang dikatakan ibumu memang benar. mereka telah banyak melakukan kesalahan, mereka pantas menerimanya!” Purbasari menunduk diam dan pasrah Patih “Pengawal sekarang bawa mereka menuju penjara!” Pengawal “Baik Patih.” Purbararang “Tidak…..” berteriak *intro* Adegan 7 Di aula kerajaan Keesokan harinya, pesta pernikahan dan penobatan Purbasari menjadi Ratu digelar dengan meriah. Lutung Kasarung “Purbasari, maukah kau menikah denganku menjalani hari-hari dengan bahagia bersamaku?” sambil memegang tangan Purbasari Purbasari “Tentu Pangeran, aku bersedia kau persunting.” tersenyum bahagia Lutung Kasarung mencium tangan Purbasari Patih “Dengan ini kalian resmi menjadi pasangan suami istri.” Istri Prabu merangkul Purbasari dan Lutung Kasarung ”Kalian sekarang sudah resmi menjadi sepasang Raja dan Ratu. Semoga kalian hidup bahagia.” Rakyat tepuk tangan Akhirnya Purbasari dan Lutung Kasarung hidup bahagia didalam kerajaan. Demikian drama cerita rakyat Lutung Kasarung yang dapat kami persembahkan. Terima kasih. semuanya menundukan badan Share